Bapak Untuk Diriku Sendiri
Aku bukan anak yang tumbuh dengan
kasih yang terpisah
Semuanya ada dan terpenuhi dengan
cukup saat aku masih telanjang
Dan dengan sesuka hatinya
mengibas-ibaskan kelaminku saat kencing
Hanya saja saat aku sedang merangkat
dan berusaha untuk berjalan
Mulut-mulut yang ada tak pernah
sekalipun terbuka dan bersuara
Bukannya bisu atau lidah yang ada
terpotong oleh sesuatu
Aku sendiri sebenarnya juga tidak
tahu
Dan aku pun berjalan dengan mulut
terbungkam
Sekali lagi, aku bukan anak yang
tumbuh dengan kasih yang terpisah
Tapi aku, hatiku, dan otakku
Entah sudah berapa lama terpisah oleh
mulut-mulut yang tak pernah bersuara
Meski bisa saja terbuka dan bersuara,
tapi rentang tahunan seperti mematikan
Antara mulutku dan mulutnya yang
mulai menyebarkan bibit kebencian
Di hati, tak ada lagi kata-kata baik
yang bisa terlontarkan oleh mulut
Semua terasa menyebalkan lagi
memuakkan!
Dalam perjalan hidup, apa yang ada
tak pernah menjadi apa yang ku harapkan
Yang ada malah kebencian yang semakin
kuat dan rekat
Dan aku, menjadi bapak untuk diriku
sendiri
Yang selama ini selalu ditemani,
hanyalah kekosongan sosok

No comments: