AKAR HARAPAN
Ada masanya ketika hati ini
benar-benar nanar
Diterpa gelombang awang-awang yang
menerawangkan satu tawa
Dan mulailah, terlahir lagi sesosok
manusia
Yang suci namun berlumur lumpur pekat
Yang suci namun bermandikan comberan
Awal jejak dan jejak-jejak yang telah
tercetak
Menggeletakkan semua rasa baik di
dinding hati
Pandangan baru, hati yang baru tanpa
mengenal rasa ini itu
Dan masih menjalarkan diri dalam hati
yang berongga-rongga
Dan pada masanya, masanya telah
berkabung
Menggabungkan semua rangsangan masa
nanar
Dan kembali ke hati yang semula mual
Kenapa aku kembali memungut ludah
yang telah ku sepah?
Karena hatiku telah terbelit akar
otakku
Yang memaksa diri untuk kembali,
dengan melepas sisa-sisa
Dan itu tak terlalu buruk
Karena sejatinya aku adalah harapan
No comments: