MATI SEDETIK
Menggelitik!
Saat
benih yang sudah lama disiangi siang dan malam
Harus
merekah dan pecah! Dalam balutan merah yang marah
Tangisnya
yang menjadi tawa
Menjadi
pilu yang mengulum harapan lalu
Genggamnya
yang menjadi cita
Menjadi
tolak yang menghenyak otak
Mati
sedetik!
Tangis-tangisnya
berlanjut menjadi gelengan kepala
Dan
erat genggamnya menjadi anggukan kepala
Yang
menguatkan hati dalam membabat resah
Resah-resah
yang berakrobat sepanjang alur waktu
Terus
menangis, teruslah menangis dan menggenggam
Dan
akan semakin tajam mata memandang ke depan
Dengan
segala resahnya
No comments: