saatku sendiri menatap sepi rembulan
pantulan sepi menyiksa relung batin
tak ada genangan tawa di sana
hanya kosong dan sunyi yang mematikan
seperti langkahku yg terhuyun parau mengikis sepi
dan coba menerawang keindahannya
hanya bayangku yang meranggas terbanting kalutnya kabut hati
mencari jejak hatimu
tak ada sinarnya yang mampu menerangi langkahku
sepi. mengapa harus terjadi saat purnama bersinar
reduplah engkua dalam pelukku
agar pecah kegelapan hati
agar remuk noda hatiku
dan biarkan ku hanyut bersama genangan kesepian ini
No comments: