PAGIKU
Pagi
membungkam bisu hati yang terbangun dengan penuh dengki
Karena
jalur hidup yang tak sesuai asa
Dan
hanya menjadi remah yang dimamah kebencian
Sudah
hancur dan menjadi semakin lembut
Hati
jadi bubur yang basi, yang tak bisa menggerakkan sendi-sendi
Dan
tubuh pun hanya menjadi kerangka angka
Yang
buruk, yang lemah, yang busuk, yang tak berguna
Dan
selalu berkutit pada ego-ego yang bego!
Aku
bego! Karena menjadikan bagi sebagai ladang menuai kebencian
Dan
itu terus berunglah hingga entah
Entah
sampai aku menjadi bubur itu sendiri hingga basi
Atau
sampai aku menjadi tiada pagi lagi

No comments: