Header Ads

Antrean Baca
recent

Entah Mengapa


Entah mengapa
Semunya kini semu
Seperti rintikan embun di dinding kaca
Apa yang ada di depanku menjadi kusam
Jika ku sapukan telapak tanganku padanya
Dingin dan bening, namun tetap tak bisa dijangkau
Karena masih ada kaca yang menbentang
Entah mengapa
Semuanya kini hancur
Seperti rintihan air hujan yang menghujam kerak bumi
Apa yang sudah ku lewati menjadi debu
Jika ku raih lagi dengan imaji padanya
Gigil dan hening, namun masih bisa tersenyum
Karena masih ada detik-detik yang bergemericik

No comments:

Powered by Blogger.